Di bawah langit keemasan yang berpadu dengan laut senja, di Pulau Mayau, riak ombak memecah sunyi. Angin tajam menusuk kulit, namun tak setajam kerinduan di dada.
Inilah kisah api yang tak pernah padam. Api Injil. Api yang membara dalam gelap, menuntut cahaya Firman Allah untuk menerangi jiwa. Ini bukan sekadar cerita, melainkan sebuah epik perjuangan. Pergumulan panjang yang mengukir sejarah, menguji ketangguhan, dan membuktikan iman yang tak tergoyahkan.
Di masa di mana jarak adalah jurang dan komunikasi adalah mimpi, para leluhur gagah berani memulai perjalanan yang penuh risiko. Bapak Abraham Tarussy (Abongo), sang pelopor, berlayar melintasi samudra, menuju Halmahera, memohon uluran tangan. Namun, permohonan itu bertepuk sebelah tangan, ditolak, dan dihempaskan oleh nasib.
Namun, akankah api itu padam? Tidak. Justru penolakan itu bagai minyak yang menyulut bara. Semangat mereka semakin menyala. Para tetua, seperti Bapak Alpius Manahampi (Neto), Hermanus Mamisala, dan Nikodemus Katiandagho (Lihoma), tidak tunduk pada kegagalan.
Mereka mengambil pena, menulis surat permohonan yang bukan hanya berisi kata-kata, tetapi seluruh harapan dan kerinduan sebuah umat. Saat itu tiba, momen yang menentukan.
Para orang tua yang dengan iman yang tak bergeser seperti karang berkumpul, mereka adalah Abraham Tarussy, Benhard Salu (Belang), Ibu Katrina Kareko, Ibu Marina Salu, Isak Salu (Ias), Bapak Djat Balak (Jubi), dan Marten Saksi (Lolo), memanjatkan doa dan menaiki perahu kecil milik Bapak Martinus Namoua.
Mereka melintasi laut yang bergelora, menantang ombak yang mengamuk. Bukan hanya diri mereka yang dibawa, melainkan seluruh harapan Pulau Mayau. Mereka “toma arus, sibak gelombang”, melawan setiap tantangan, demi satu tujuan: membawa kembali terang kebenaran.
Niat tulus itu disambut dengan sukacita oleh Gereja Protestan Maluku. Mereka mengutus Pdt. Riupassa, seorang hamba Tuhan, untuk berlayar menuju Mayau. Kedatangannya bagai embun yang membasahi tanah kering, mengakhiri paceklik rohani yang panjang.
Persekutuan itu bersemi, tumbuh, hingga akhirnya secara resmi menjadi Jemaat GPM Mayau. Sejak saat itu, transformasi dimulai. Sebuah peradaban baru lahir dari air baptisan yang mengalir. Pelayanan gereja bersemi, dan berkat berlimpah di atas tanah yang subur. Di laut, jaring-jaring mereka dipenuhi ikan, sebagai bukti berkat yang tak terhingga. Pada tahun 1962, sebuah pernikahan massal yang bersejarah mengubah total hidup masyarakat. Nilai-nilai kehidupan berdasarkan Firman Tuhan mulai berakar, memberikan pedoman dan harapan baru.
Nama gereja itu sendiri adalah saksi bisu dari perjalanan iman yang luar biasa ini. Berawal dari Eliezer (Allahku adalah penolong), kemudian menjadi Eben-Hezer (Sampai di sini Tuhan menolong), dan akhirnya, pada tahun 1994, diubah menjadi Efata (Terbukalah) oleh Pdt. Melianus Akollo, S. Th. Nama ini lebih dari sekadar sebutan. Efata adalah proklamasi bahwa hati dan mata umat telah terbuka untuk menerima terang Injil. Sebuah pengingat abadi bahwa pintu surga telah terbuka di Pulau Mayau.
Kisah GPM Jemaat Mayau adalah bukti nyata bahwa iman yang sejati tidak akan pernah padam. Ia akan terus membara, menembus badai, menaklukkan lautan, dan mengubah dunia. Di hati tetap Ngoni, Kita, Ngana, Beta, Torang GPM selamanya.
















