
Perjalanan pengalaman berteologi tidak berhenti pada batas-batas kelas dan teori. Bagi mahasiswa Teologi Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Angkatan 64, Laboratorium Sosial Pengalaman Berteologi (LSPB) adalah panggilan untuk hidup dan bergerak, menjejakkan kaki di tengah realitas jemaat sebagai ladang pembelajaran sejati.
Setelah menuntaskan bagian awal pengalaman di Kamal, Pulau Seram, mereka kembali ke Ambon. Namun, panggilan pelayanan membawa mereka terbang lebih jauh ke utara: Maluku Utara. Perjalanan dilanjutkan ke Ternate, kota bersejarah yang menjadi pintu gerbang baru.
Beberapa hari di Ternate menjadi waktu penyesuaian sebelum tantangan sesungguhnya menanti. Dari Ternate, perjalanan laut yang memakan waktu kurang lebih sembilan jam membawa mereka ke Mayau. ![]()
Inilah momen bersejarah. LSBP mahasiswa Teologi UKIM untuk pertama kalinya meluas hingga ke Klasis Ternate, Maluku Utara, sebagai bagian dari kegiatan kesiapan praktek lapangan.
Mahasiswa yang kelak akan menjadi pendeta ini, diutus untuk menimba pengalaman yang lebih holistik. Selama di Maluku Utara, mahasiswa dibagi di tiga Jemaat: 3 orang di Jemaat Imanuel Ternate, 13 orang di Jemaat Tifure, 14 orang di Jemaat GPM Mayau.
Selain Klasis Ternate, beberapa mahasiswa juga ditempatkan di Klasis Bacan, memperluas cakupan pengalaman mereka di Maluku Utara. Antusiasme dan harapan jemaat dalam menerima kehadiran para calon pelayan Tuhan ini disambut dengan antusiasme dan penerimaan yang hangat dari jemaat.
Bagi jemaat, ini adalah penanda perhatian dari lembaga gereja dan pendidikan. Bagi mahasiswa, ini adalah kesempatan langka untuk menguji pemahaman teologi yang mereka miliki. LSBP ini bukan sekadar tugas akademis, melainkan sebuah kerjasama yang vital antara UKIM dan Fakultas Teologi dengan jemaat-jemaat di Maluku Utara.
Tujuan utama dari pengalaman ini bahwa belajar berteologi bukan hanya terbatas pada pemahaman teori dan pertumbuhan spiritual personal, tetapi juga pada pengenalan akan jemaat dengan segala dinamika, konteks sosial, budaya, dan tantangan yang mereka hadapi di Maluku Utara.
Mereka bergerak, bukan hanya berpindah tempat, tetapi bergerak dari ruang kelas menuju ruang publik, dari teori menuju praksis, dari pemahaman teoretis menuju teologi kontekstual yang hidup. Angkatan 64 menunjukkan bahwa pelayanan sejati dimulai dari kesediaan untuk berjalan, mendengarkan, dan belajar di tengah-tengah umat yang akan mereka layani.
Penulis: wn
















