
Zaman terus bergerak maju dengan kecepatan yang luar biasa. Transformasi digital, pergeseran nilai sosial, perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat, dan tantangan global seperti isu lingkungan serta pluralisme, adalah realitas yang kita hadapi hari ini.
Di tengah pusaran perubahan ini, identitas dan peran seorang Kristen dituntut untuk berevolusi, tidak lagi memadai jika kita hanya menjadi Kristen yang pasif, yang seolah-olah hanya menunggu dan menerima. Seruan saat ini adalah untuk bangkit menjadi umat Kristen yang aktif dan arif.
Kekristenan yang pasif ditandai dengan sikap acuh tak acuh, spiritualitas yang terisolasi, dan keterbatasan peran hanya di dalam tembok gereja. Seorang Kristen yang pasif cenderung.
Pertama: Menghindari dunia, menganggap dunia luar sebagai ancaman total, sehingga menarik diri dari isu-isu sosial, politik, dan budaya.
Kedua: Iman yang statis, artinya tidak memiliki kerinduan untuk belajar, beradaptasi, atau merefleksikan imannya dalam konteks tantangan kontemporer.
Ketiga: Pelayanan yang terbatas, hanya berfokus pada keselamatan pribadi tanpa mewujudkan kasih Kristus melalui tindakan nyata di tengah masyarakat. Sikap ini membuat iman Kristen terkesan tidak relevan dan gagal menjadi "garam dan terang" di tengah-tengah dunia yang membutuhkan arahan.
Untuk itu, menjadi kristen yang aktif berarti mewujudkan iman sebagai daya dorong untuk terlibat dan melayani secara nyata. Ini mencakup pelayanan yang mengubah fokus dari "untuk diri sendiri" menjadi "untuk sesama".
Seperti melakukan aksi nyata, membangun kepedulian sosial, memerangi kemiskinan, hingga menjaga lingkungan, sebagai perwujudan kasih yang utama. Terutama melalui keteladanan hidup yang otentik dan memiliki integritas, kerendahan hati, dan tanggung jawab sebagai kesaksian hidup sehari-hari.
Apalagi di era yang dibanjiri informasi (disrupsi teknologi) dan ideologi yang beragam (seperti materialisme, individualisme, dan hedonisme), kearifan menuntun kita untuk bersikap kritis terhadap setiap narasi, memilih mana yang sejalan dengan nilai-nilai baik dan mana yang berpotensi merusak moralitas.
Sambil kita tetap menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi dan terus memacu kemauan internal untuk bertransformasi. Nicaya jangkar yang kokoh dan menavigasi kompleksitas dunia ini dengan hikmat, menunjukkan relevansi di tengah masyarakat.
penulis : wn
















